Cara Mengurangi Permintaan Pekerjaan yang Menumpuk Setiap Hari Sebanyak 20 Persen
Perencana dan pemasar yang baru bekerja 1–3 tahun selalu sibuk. Saat menangani permintaan yang tak ada habisnya, pekerjaan untuk pencapaian diri sendiri justru sering terabaikan. Jika Anda masih merasa cemas dengan sisa pekerjaan setelah pulang kantor, berarti ada yang salah dengan cara kerja Anda saat ini. Bekerja keras saja tidak akan menyelesaikan masalah. Anda memerlukan proses untuk mengklasifikasikan prioritas pekerjaan secara teknis dan memilih tugas mana yang harus disingkirkan.
Saring Permintaan Berdasarkan Skor
Jika Anda memperlakukan semua permintaan dengan cara yang sama, Anda hanya akan kelelahan. Ubahlah model RICE untuk pekerjaan pribadi. Saat ada permintaan masuk, beri skor pada Reach (jangkauan), Impact (dampak), dan Confidence (keyakinan), lalu bagi dengan Effort (upaya yang dibutuhkan). Tugas remeh dengan skor rendah harus menjadi prioritas terakhir.
Saat menolak, gunakan cara yang disarankan oleh American Psychological Association (APA). Pertama, akui niat lawan bicara, nyatakan dengan jelas tenggat waktu tugas utama Anda saat ini, lalu berikan satu alternatif. Jika atasan memberikan pekerjaan mendadak, katakanlah: "Saya ingin membantu, tetapi saat ini 80 persen sumber daya saya sedang digunakan untuk proyek ini. Sulit untuk menyelesaikannya sebelum hari Selasa, bagaimana jika Anda mencoba menarik datanya sendiri menggunakan alat otomatisasi data?" Satu kalimat ini dapat mengurangi beban tugas remeh Anda lebih dari 3 jam per minggu.
Hilangkan Kelelahan Akibat Pengambilan Keputusan 15 Menit Sebelum Pulang
Otak yang tidak beristirahat setelah pulang kerja disebabkan oleh pekerjaan yang belum selesai. Hal ini disebut sebagai Efek Zeigarnik. Seperti yang ditekankan oleh Cal Newport, Anda harus mengeluarkan pikiran dari otak Anda. Lakukan tiga hal ini 15 menit sebelum pulang kerja:
- Periksa email dan pesan singkat, lalu tangani hanya hal-hal yang bersifat sangat mendesak.
- Catat pekerjaan yang sudah dan belum selesai di master work log Anda.
- Tetapkan 3 tugas yang akan dikerjakan pertama kali besok pagi.
Terakhir, tutup semua tab peramban. Mengucapkan pernyataan bahwa Anda telah selesai bekerja juga bisa menjadi cara yang efektif. Dengan begitu, Anda mengurangi pemborosan waktu untuk memikirkan apa yang harus dikerjakan saat masuk kantor keesokan harinya.
Matikan Notifikasi dan Amankan Waktu Fokus
Notifikasi memecah konsentrasi otak. Menurut peneliti dari University of California, Irvine, jika alur kerja terputus oleh notifikasi pesan, dibutuhkan waktu rata-rata 23 menit 15 detik untuk kembali fokus. Shopify berhasil meningkatkan tingkat penyelesaian proyek sebesar 25 persen dengan mengurangi rapat yang tidak perlu, sementara Asana dan Meta menetapkan hari tertentu sebagai hari bebas rapat.
Ketik /dnd 2 hours di Slack untuk mematikan semua notifikasi selama 2 jam. Anda juga bisa membatasi pengaturan notifikasi hanya untuk mention dan pesan langsung. Jika Anda memberi tahu rekan kerja melalui pesan status bahwa Anda sedang dalam jam kerja fokus, Anda bisa terbebas dari tekanan untuk membalas pesan secara real-time dan meningkatkan efisiensi kerja sebesar 20 persen.
Buktikan Prestasi dengan Catatan
Sangat sia-sia jika Anda bekerja keras namun tidak diakui. Gunakan metode brag document dari Julia Evans untuk merangkum pencapaian Anda setiap hari Jumat. Ini bukan sekadar catatan tentang apa yang telah dilakukan. Anda harus menuliskan angka kuantitatif, misalnya berhasil menurunkan CPA sebesar 18 persen atau mempersingkat pengolahan data yang tadinya memakan waktu 4 jam menjadi hanya 15 menit.
Bawa catatan ini saat berbicara dengan atasan. Anda harus bernegosiasi dengan data, bukan emosi. Jika Anda menunjukkan fakta bahwa 45 persen waktu Anda habis untuk tugas administratif yang tidak efisien, manajer pun akan terpaksa mempertimbangkan penyesuaian prioritas secara serius. Mengendalikan waktu Anda sendiri secara proaktif adalah satu-satunya cara untuk mencegah burnout.